Implementasi Pancasila, Mengokohkan Etika Kehidupan Berbangsa

Kehidupan Berbangsa

Blitar, 30 Mei 2015 bertempat di Balaikota Koesoema Wicitra Majelis Permusyawaratan Rakyat RI bekerjasama dengan Pemerintah Kota Blitar menyelenggarakan Seminar Kebangsaan Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 “Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Mengokohkan Etika Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara” Dalam Seminar tersebut

Ngesti D. Prasetyo selaku Direktur Eksekutif PPOTODA menjadi narasumber bersama dengan pakar ekonomi dari Universitas Brawijaya Prof. Dr. Unti Ludigdo dan pakar hukum sociolegal Universitas Diponegoro Prof. Dr. Aji Samekto S.H, M.H.

Dalam pemaparannya Ngesti mengungkapkan bahwa sejarah perjalanan bangsa Indonesia, para pendiri bangsa telah menyadari dengan seksama, bahwa Pancasila adalah philosofiche groundslag dan weltanchauung, yaitu fundamen, filsafat, dan landasan yang akan menjadi pijakan utama bagi kehidupan bangsa dan negara Indonesia masa depan.

Pancasila dicita-citakan sebagai alat pemersatu seluruh warga negara dari Sabang sampai ke Merauke, yang karenanya bangsa ini dapat memompa spirit perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme.

Merupakan sebuah fakta sejarah sejak berdirinya bangsa Indonesia, Pancasila telah diterima oleh bangsa Indonesia secara aklamasi sebagai falsafah dan ideologi negara yang akan menjadi sumber inspirasi kehidupan bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-citanya menuju masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera sebagaimana janji kebangsaan yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Sementara itu Aji Samekto mengungkapkan bahwasanya Pancasila secara eksistensi memiliki dasar pembenaran baik dari aspek filosofid, yurids, dan sosiologis.

Dalam paparannya Prof Aji sapaan akrabnya memaparkan pula bahwa seiring dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, Pancasila telah menjadi sumber primer dalam tantangan-tantangan kebangsaan yang bersifat multidimensional.

Harus diakui, Pancasila mempunyai nilai historis yang kuat yang dapat meningkatkan spirit kebangsaan, dan di sisi lain Pancasila mempunyai nilai spiritual-ideologis yang dapat dijadikan sebagai kekuatan untuk meneropong persoalan kekinian dan kemasadepanan.

Sementara itu Unti Ludigdo dalam perspektif ekonomi memaprkan terkait dengan Quo Vadis Ekonomi Pancasila.

Dalam paparannya Unti menyampaikan bahwasanya Pancasila kian tergerus oleh danya laju globalisasi dan modernisasi yang cenderung destruktif. Maraknya ritel modern kian mengikis eksistensi ekonoi rakyat yang berbasis pada modal kecil.

Sebagai usaha menghidupkan Pancasila sebagai ideologi negara dan landasan etika kehidupan bangsa dalam setiap sendi kehidupan, kita sebagai bagian dari elemen bangsa memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang sama untuk menjaga, mengawal dan melestarikan nilai-nilai Pancasila, agar tidak tergerus oleh perubahan jaman atau bahkan tergantikan oleh ideologi lainnya.

Atas dasar itu, sudah menjadi kewajiban kita semua utamanya para penyelenggara negara memikirkan suatu langkah nyata dan konstruktif dalam menjaga Pancasila, dan menjadikan kita teladan dalam pengimplementasian nilai-nilai luhurnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *